PATRIOTPENCERAH.ID- Wafatnya Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tidak dibiarkan menjadi momentum transisi yang tenang. Bagi Donald Trump, peristiwa ini adalah celah geopolitik yang dieksploitasi dengan agresivitas militer brutal. Kita seolah melihat bagaimana seorang pemimpin “maniak” di era posmodern berupaya merestorasi tatanan dunia melalui narasi megalomania yang narsistik, menempatkan Amerika Serikat dan Israel sebagai diktator tunggal di atas panggung global.
Trump adalah personifikasi dari pemimpin posmodern yang menggunakan hiperrealitas sebagai instrumen kekuasaan. Mengacu pada pemikiran Jean Baudrillard, Trump tidak lagi beroperasi dalam realitas diplomasi, melainkan dalam “pertunjukan” kekuatan. Baginya, menyerang Iran di masa berkabung adalah sebuah branding politik untuk menunjukkan kepada warga Amerika bahwa ia adalah “Pemimpin Terbaik Dunia” yang mampu mengambil keputusan radikal tanpa kompromi. Ini bukan sekadar strategi militer; ini adalah upaya memuaskan ego narsistik untuk tercatat dalam sejarah sebagai arsitek tunggal yang berhasil “meriset” dunia.
Wajah diplomasi Amerika di bawah Trump telah bermutasi menjadi wajah predator ekonomi. Ambisinya terkunci rapat pada penguasaan tiga sumber daya strategis (minyak, uranium dan Logam Tanah Jarang) yang ia gunakan sebagai alat penekan warga dunia. Pada sumber daya Minyak, Trump berupaya mengontrol penuh pasokan Timur Tengah guna mendikte harga energi global dan melumpuhkan ekonomi negara-negara berkembang. Menurut sebagian besar pengamat oni dilakukan agar minyak dari negara hasil aneksasinya (venezuela), dapat dijual di pasar global.
Sementara pada Uranium, AS berupaya menguasai rantai pasok nuklir untuk memastikan hegemoni militer dan energi tetap berada di genggaman Washington. Trump nampaknya “tergiur” dengan sungai eufrat, yang dalam beberapa literatur keagamaan merupakan sumber emas (dimana uranium seringkali ditemukan bersama unsur ini). Terakhir adalah keberadaan Logam Tanah Jarang (LTJ) dimana Mengamankan mineral kritis untuk menyandera industri teknologi global, memaksa dunia bertekuk lutut di bawah ketergantungan manufaktur AS. Langkah ini mencerminkan teori Realisme Ofensif John Mearsheimer, di mana kekuatan besar tidak akan berhenti sebelum mencapai dominasi absolut. Serangan militer brutal ke Iran adalah jalan pintas (reset) untuk mengamankan aset-aset ini sebelum kekuatan lain sempat bereaksi.
Visi Trump untuk menempatkan poros AS-Israel sebagai pemimpin tunggal dunia adalah perjudian yang memicu perlawanan eksistensial. Menggunakan perspektif Hegemoni Antonio Gramsci, Trump mencoba memaksakan dominasi tanpa konsensus global. Hal ini secara otomatis menciptakan antibodi geopolitik, dimana beberapa negara akan bereaksi keras. Rusia misalmya tidak akan membiarkan penghancuran kedaulatan Iran tanpa balasan militer dan asimetris. Sementara Cina akan menggunakan kekuatan ekonominya untuk membangun blok tandingan guna mengamankan jalur energi mereka. Bahkan sekutu merekam Uni Eropa mulai menyadari bahwa di bawah Trump, tatanan hukum internasional telah digantikan oleh “Hukum Rimba”, memaksa mereka untuk mencari otonomi strategis yang lepas dari bayang-bayang Amerika.
Realitas dunia hari ini, menampakkan kepada kita sebagai seorang saksi dari tragedi di mana ambisi pribadi seorang pemimpin narsistik menyatu dengan kekuatan api militer. Upaya Trump untuk meriset dunia melalui agresi atas wafatnya Khamenei bukan hanya langkah picik untuk menguasai sumber daya, tetapi juga pemicu bagi kiamat geopolitik. Jika dibiarkan, diplomasi predator ini akan membawa peradaban kembali ke era di mana kekuatan senjata adalah satu-satunya hukum yang berlaku.


