Pemadaman listrik besar-besaran yang terjadi pada 29–30 April 2025 di Spanyol, Portugal, dan sebagian Eropa menjadi peringatan keras bagi kita semua. Negara-negara maju yang selama ini dianggap memiliki sistem energi canggih ternyata rentan terhadap gangguan yang bisa memicu blackout masif. Dua hipotesa utama muncul: gangguan akibat solar flare dan kemungkinan serangan siber. Meski belum ada kepastian, kejadian ini membuka mata kita akan kompleksitas tantangan ketahanan energi di era modern.
Penurunan tiba-tiba output tenaga surya di Spanyol—dari 18 GW ke 5 GW dalam hitungan jam—memicu ketidakseimbangan frekuensi yang mematikan, menunjukkan bahwa kelincahan jaringan dan kapasitas penyimpanan sama pentingnya dengan kapasitas pembangkit. Kejadian ini mematahkan mitos bahwa penetrasi tinggi energi terbarukan otomatis menjamin keamanan pasokan.
Indonesia, yang pernah mengalami blackout besar di masa lalu, harus belajar dari pengalaman ini. Ketergantungan pada energi fosil dan pasokan komponen energi terbarukan dari luar negeri, terutama China, menunjukkan betapa rapuhnya sistem energi kita jika tidak dikelola dengan matang. Di tengah ketegangan geopolitik global, penguatan pengelolaan bahan baku dan teknologi energi terbarukan menjadi kunci strategis.
Target bauran energi terbarukan sebesar 23% pada 2025 harus diimbangi dengan investasi besar di teknologi penyimpanan dan modernisasi jaringan. Posisi strategis Indonesia sebagai pemasok nikel dan kuarsa memberi kesempatan untuk merancang rantai pasok mandiri sekaligus mempercepat transfer teknologi hilir. Selain menambah pembangkit surya dan angin, eksplorasi energi arus laut dan mini nuklir bisa menjadi cadangan stabil saat kejadian ‘dunkelflaute’ melanda.
Ketahanan energi bukan sekadar soal angka persentase; ini soal kesiapan sistem, kolaborasi kebijakan, dan inovasi teknologi. Tanpa itu, transisi bersih justru menyimpan risiko kegagapan massal. Indonesia harus menanamkan prinsip resilien dalam setiap strategi agar tidak terperangkap dalam drama gelap gulita.
Apakah Indonesia sudah cukup siap menghadapi tantangan ini?
Achmad Puariesthaufani N
*Anggota Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI)/ Ketua Bidang Litbang PB Gerakan Pemuda PARMUSI


