Berita

Ironi Kota Industri: Pencaker Asal Cikarang Mengeluh Sulitnya Mendapat Pekerjaan di Tanah Kelahiran

1 Mins read

PATRIOTPENCERAH, CIKARANG – Julukan Kota Industri tampaknya belum menjadi jaminan bagi warga lokal Cikarang untuk dengan mudah mendapatkan pekerjaan di kampung halamannya sendiri. Di tengah gemerlap ribuan pabrik dan kawasan industri yang tersebar di wilayah Kabupaten Bekasi, justru masih banyak para pencari kerja (pencaker) asli daerah yang mengaku kesulitan memperoleh pekerjaan.

 

Hal ini diungkapkan Eko Yulianto, salah satu pencaker asal Cikarang, dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang tayang pada Rabu (5/6). Dalam forum tersebut, Eko menuturkan kisah pilu perjuangannya mencari kerja di kota kelahiran sendiri yang justru penuh tantangan.

 

“Sulitnya cari kerja di kota sendiri, tanah kelahiran saya. Di Cikarang masuk perusahaan harus bayar,” ungkap Eko.

 

Ia mengaku pernah diminta membayar uang muka sebesar lima juta rupiah oleh seorang calo, dengan janji akan diproses masuk ke salah satu pabrik di kawasan industri MM2100. Namun kenyataannya, setelah tiga bulan menunggu, pekerjaan yang dijanjikan tak kunjung datang.

 

“Rata-rata nominalnya besar, lima juta, sembilan juta, sampai dua puluh juta. Saya sempat bayar DP lima juta, tapi bulan pertama, kedua, ketiga, nggak ada kabar. Akhirnya saya minta uangnya balik, tapi dikembalikan dicicil,” beber Eko.

 

Fenomena pungutan liar oleh calo kerja ini bukan hanya dialami Eko. Siti F, seorang pencaker wanita asal Cikarang Utara, juga menceritakan pengalamannya saat mengikuti Job Fair yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Bekasi. Alih-alih mendapat pekerjaan, ia justru merasa acara tersebut tidak memberikan hasil yang nyata bagi pencari kerja lokal.

 

“Rasanya sia-sia ikut Job Fair. Nggak ada tindak lanjut, hanya formalitas saja,” keluh Siti.

 

Kesaksian Eko dan Siti menggambarkan kondisi nyata yang dihadapi ribuan pencaker di Cikarang. Di tengah geliat industri yang seolah menjadi magnet ekonomi nasional, warga asli justru menghadapi tembok tinggi berupa praktik percaloan dan birokrasi yang menyulitkan.

 

Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya menggugurkan kewajiban lewat program-program seremonial, melainkan perlu turun tangan langsung menindak praktik calo kerja serta memastikan akses kerja yang adil dan transparan bagi warga lokal.***

108 posts

About author
Tim Redaksi Patriotpencerah.id
Articles
Related posts
ArtikelBerita

Kado Ramadan PD Nasyiatul Aisyiyah Kabupaten Bekasi: Sentuhan Kasih untuk Perempuan dan Anak

1 Mins read
PATRIOTPENCERAH, BEKASI – Dalam semangat berbagi di bulan suci Ramadan, Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kabupaten Bekasi meluncurkan program sosial bertajuk “Kado…
BeritaDaerah

Sambut Idul Fitri 1447 H, PDM Kabupaten Bekasi Siapkan 12 Titik Lokasi Sholat Idul Fitri pada 20 Maret 2026

1 Mins read
BEKASI, 13 Maret 2026 – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Bekasi secara resmi merilis daftar lokasi pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1 Syawal…
BeritaDaerah

PCM Grand Wisata Bekasi Resmi Berdiri untuk Perkuat Dakwah Muhammadiyah Kab Bekasi

2 Mins read
PATRIOTPENCERAH, Bekasi – Kabar menggembirakan datang bagi warga dan kader persyarikatan di kawasan Grand Wisata dan sekitarnya. Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Grand…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *