PENDAHULUAN
Etnosentrisme sebenarnya tidak jauh seperti layaknya sebuah identitas, tetapi disini kajian etnosentisme lebih mengarah kepada struktrur kebudayaan.tempat asal dilahirkan sampai dimana ia dibesarkan.
Etnosentrisme sendiri adalah penilaian terhadap budaya lain atas dasar nilai dan standar budaya sendiri, indicator dalam kajian etnosentrisme berarti adalah sebuah perbandingan budaya antara budaya yang satu dengan budaya yang lain,
Etnosentrisme memandang dunia melalui filter budaya khusus dan ini sering dianggap sebagai suatu yang negative yang dimana tidak mampu melihat orang lain dari sudut pandang yang berbeda, hampir sama dengan istilah etnosentrisme, istilah stereotip muncul untuk lebih meng eksplisitkan suatu prasangka, stereotip lebih mengarahkan pandangan kita terhadap salah satu individu dengan tingkah lakunya didalam suatu kelompok atau biasa yang disebut sebagai prasangka.
Kata stereotip berasal dari gabungan dua kata Yunani, yaitu stereos yang berarti padat-kaku dan typos yang bermakna model, stereotip sebagai pemberian sifat tertentu terhadap seseorang atau sekelompok orang berdasarkankategori yang bersifat subjektif, hanya karena ia berasal dari suatukelompok tertentu (in group atau out group) yang bisa bersifatpositif maupun negatif.
Stereotip didasarkan pada penafsiran yangkita hasilkan atas dasar cara pandang dan latar belakang budaya kita.Stereotip juga dihasilkan dari komunikasi kita dengan pihak-pihaklain, bukan dari sumbernya langsung. Stereotip seringkalidiasosiasikan dengan karakteristik yang bisa diidentifikasi. Ciri-ciriyang kita identifikasi sering kali kita seleksi tanpa alasan apapun[1]jadi pembedaan yang sangat mendasar etnosentrisme dengan stereotip adalah etnosentrisme lebih mengacu kepada budaya yang ada sedangkan stereotip lebih mengacu kepada orang itu dibesarkan di kelompok yang mana.
Etnosentrisme membuat kebudayaan kita sebagai suatu tolak ukur untuk mengukur baik buruknya, tinggi rendahnya kebudayaan lain dalam proposi kemiripannya dengan budaya yang menjadi tolak ukur,ini dinyatakn sebagai ungkapan atas gesture budaya tersebut, lalu apakah ada hubungannya etnosentrisme dengan pergerakan politik Immawati? berangkat dari pernyataan sri soemantri politik adalah pelembagaan yang masih erat hubungannya terhadap manusia satu dengan yang lainnya yang dilembagakan dalam berbagai macam badan politik termasuk suprastruktur politik serta infrastruktur politik, yang dimaksut suprastuktur disini adalah pelembagaan lembaga negara sebagai mesin politik bisa di sebut sebagai penggerak politik yang memang bersifat formal,dan lembaga lembaga yang dimaksutkan oleh suprastuktur adalah lembaga yang diatur oleh konstitusi dan undang undang lalu yang dimaksut dalam infra stuktur politik adalah masyarakat yang berpartisipasi dengan aktif dalam kehidupan politik di suatu negara maka dari itu peran Immawati di butuhkan untuk mengisi kekosongan tersebut
PEMBAHASAN
Politik adalah sebuah seni untuk mendapatkan kekuasaan, pada tahun 1998 terjadi perubahan konstelasi politik nasional yang ditandai oleh berakhirnya rezim pemerintah Orde Baru bergeser engarah rezim reformasi dengan identitas membuka ruang demokrasi seluas luasnya,pemilihan umum pertama di laksanakan 7 juni 1999 dengan tujuan memilih DPR dan DPRD yaitu badan legislative yang berada di Indonesia,setelah itu memasuki tahun 2004 pemilihan umum untuk memilih presiden dilakukan pertama kalinya namun apakah benar ada hubungan khusus antara politik dengan etnosentrisme adalah sebuah kenyataan.
Kehadiran perempuan dalam dunia politik praktis yang telah dibuktikan dengan adanya keterwakilan perempuan di parlemen menjadi syarat mutlak untuk proses pengambilan sebuah kebijakan publik yang ramah dan sensitif pada kepentingan kaum perempuan. Tanpa adanya keterwakilan perempuan di parlemen yang memiliki jumlah memadai akan mengakibatkan timbulnya kecenderungan untuk menempatkan kepentingan laki-laki sebagai pusat dari pengambilan kebijakan. Oleh karena itu, aktifnya perempuan dalam ranah politik sangat membantu, perempuan sebagai warga negara seharusnya memiliki hak yang sama untuk dapat berpartisipasi dalam proses demokrasi secara utuh[2]
Di ikatan mahasiswa muhamadiyah yang sedang berkembang secara terus menerus, tingkat partisipasi politik kaum perempuan lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat partisipasi pilitik kamu laki-laki. Hal tersebut disebabkan karena kaum perempuan lebih banyak yang memilih untuk terlibat dalam urusan bidang konsumsi daripada urusan politik[3] Pada akhirnya imawati hanya menjadi penonton dalam pergulatan politik di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kehadiran perempuan dalam dunia politik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah hanya dibuktikan dengan adanya keterwakilan perempuan di jabatan jabatan tertentu.
padahal immawati juga mampu mengambil sebuah keputusan kebijakan publik yang ramah pada kepentingan kaum perempuan, oleh karena itu kesempatan perempuan menjadi pemimpin di sebuah organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dibuka secara luas
Pada kenyataannya imawati lebih banyak bekerja disektor domestik seperti menjadi panitia konsumsi selain itu imawati yang ikut dalam politik organisasi diranah publik masih harus mengurus konsumsi, padahal urusan konsumsi adalah urusan bersama beberapa imawati selalu ditempatkan pada posisi yang kurang menguntungkan yakni hanya berpusat pada aktifitas panitia konsumsi
Secara umum ada dua persoalan yang melatar belakangi hal ini terjadi yaitu, kultur dan pemaham tentang agama yang merupakan faktor klasik keterbelakangan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Dunia perempuan adalah dunia yang berbeda dengan laki-laki, terlihat dari segi kebutuhan yaitu adanya perbedaan kebutuhan antara perempuan dan laki-laki, sehingga solusi dari setiap permasalahan perempuanhanya bisa dijawab oleh perempuan karena laki-laki tidak akan bisa memahami kebutuhan perempuan. Yang menjadi persoalan adalah kelemahan perempuan dibidang politik,
maka ketika perempuan mampu terjun ke dunia politik dan mampu menunjukkan prestasinya maka salah satu persoalaan perempuan telah terjawab. Karena perempuan lebih diposisikan di belakang laki-laki, partisipasi perempuandalam dunia politik dinilai tidak lebih dari sekedar pemberian hak pilih atau pemberian suara pada pemilu, hal ini juga lebih kepada peran untuk berpartisipasi yang di mobilisasi (mobilized participation) daripada partisipasi yang bersifat otonom (autonomous participation) yang mencerminkan hak politik kaum perempuan dalam arti yang lebih luas
KESIMPULAN
Sudah banyak immawati yang menjadi korban politik etnosentrisme dan banyak pula yang belum tersadar akan hal itu, seharusnya immawati juga bisa membungkus gagasan identitas untuk satu langkah lebih maju dalam pola pemikiran selain itu seharusnya immawati juga sudah bisa memikirkan agenda agenda politik untuk masa depan Mahasiswa Muhammadiyah sekarang yang dibutuhkan oleh immawati yang terjun langsung dalam konstalasi politik sebenarnya, apakah partai tersebut terlalu populis untuk benar benar menjadi representasi immawati,
[1] Fatimah saguni “pemberian stereotip gender”
[2] Ani Widyani Soetjipto, Politik Perempuan Bukan Gerhana, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2005) hlm. 24-27
[3] 7 Elvi Muawanah, Pendidikan Gender dan Hak Asasi Manusia, (Yogyakarta: Penerbit TERAS), 2009, hlm. 157