PATRIOTPENCERAH.ID- Waduh, pemerintah lagi-lagi bikin heboh dengan mengajukan permohonan abolisi buat Tom Lembong, yang kemudian disetujui DPR dengan gampang banget. Rasanya seperti ada drama politik dadakan yang bikin kita bertanya-tanya, ini apa benar mereka pengen bebaskan si Tom atau cuma main sandiwara konspirasi?
Kita semua tahu, Tom didakwa korupsi besar—bikin negara rugi sampai Rp 515 miliar. Bahkan pada 18 Juli, dia divonis 4,5 tahun oleh pengadilan tipikor Jakarta Pusat. Tapi tiba-tiba, tanggal 30 Juli, Presiden Prabowo ngajuin surat ke DPR supaya mereka pertimbangin amnesti dan abolisi buat 1.178 narapidana. Tom kebagian jatah abolisi, dan besoknya DPR langsung ngiyain aja. Keren, kan?
Kalau ini berkah buat Tom, ya memang untung banget dia. Tapi di sisi lain, ini bikin narasi oposisi jadi makin sumpek dan ribet. Ingat Feri Amsari yang bilang kalau ini “peradilan politik”? Katanya, pemerintahan Prabowo cuma alat lanjutan Jokowi buat ngebalasin dendam politik. Yuk, bayangin saja ada “Mie Godok Jawa” makan malam antar Presiden yang katanya bikin segalanya jadi lucu tapi juga serem.
Tapi giliran abolisi keluar dan Tom bebas, oposisi malah kebingungan sendiri. Dari yang katanya Tom dikriminalisasi, berbalik jadi tiba-tiba dilepas. Apalagi Hasto, yang katanya juga korban kriminalisasi, malah dapat amnesti juga dan bebas.
Ini seperti drama yang ngeruwetin kepala rakyat. Dulu dikriminalisasi, eh sekarang dikasih jalan pulang. Logikanya gimana coba? Sementara kita cuma dikasih teori konspirasi dan seminar pra nikah buat ngadepin ini semua—ya ampun, serius!
Kalau mau jujur, kita harus lebih dari sekadar percaya mitos “Mie Godok Jawa” yang bikin Presiden Prabowo seperti tokoh sinetron yang bisa dikendalikan Jokowi sampai tingkat mahapresidenan. Jokowi juga manusia, normal, nggak punya tenaga gaib untuk ngatur semuanya, walau mungkin dia lebih cerdik dibanding yang nyinyir-nyinyir.
Kalau sudah begini, ya jangan heran kalau urusan abolisi Tom ini bisa jadi latihan buat kita semua jadi lebih pinter dari Gibran Rakabuming Raka. Semoga aja begitu.
Subhi Abdillah
Penggiat Komunitas Nuun/ Mantan Ketua HMI Komisariat FIB UI


