Rakyat cemas, GEN Z Fomo Komoditas
Dalam retorika kemerdakaan, Indonesia berhasil mengusir penjajah dari tanah air ini. Dari tahun ke tahun lamanya hingga sampai saat ini, Indonesia terus bertahan dari segala upaya penjajahan yang sangat keji itu, berbagai cara pejuang dan generasi mempertahankan kemerdekaan indonesia seratus persen, agar tidak terulang kembali di negeri yang makmur akan sumber daya alamnya, dari sejak awal kemerdekaan indonesia pun banyak pengorbanan yang dilakukan oleh para pejuang demi mengibarkan sebuah bendera merah putih sebagai tanda kebebasan dari kolonialisme yang menghancurkan peradaban nasionalisme indonesia.
Seiring berjalannya waktu kemerdekaan indonesia yang telah di proklamasikan, menciptakan penerus generasi dan terciptanya gagasan penguat ideologi serta sepirit jiwa kesatuan, agar indonesia tidak terpecah belah. Karena beberapa wilayah di Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang dapat menarik para keparat yang berdatangan ke negeri tanah moyang ini. Namun beberapa rakyat Indonesia menentang akan hal itu, demi terciptanya kerukunan serta keberlangsungan hidup atas nama rakyat indonesia, tentunya dari hasil alam hayati dan nabati yang dimilik Indonesia dapat menjamin kesejahteraan 100 tahun lamanya.
Kekuasaan pemerintah yang sangat absurd mengganggu terjaminnya kehidupan masyarakat Indonesia.
Tentunya dalam sebuah negara yang berlandaskan sebuah ideologi, untuk menyatukan dari beberapa zona wilayah yang ada didalam negara, yang menganut sistem republik, kita dituntut untuk memilih sebuah pemimpin atau tokoh aktor utama dalam memberikan arah konkrit kemajuan bangsa. Pastinya pemimpin tidak instan dilahirkan disebuah negara yang dulunya berjuang merebut kemerdekaan dari penjajah, butuh waktu lama untuk merancang sebuah konsep pemerintahan yang ada dinegeri ini, beribu-ribu dinamika pro kontra yang hadir dari setiap perbedaan wilayah menjadi parameter indonesia tidak bisa disatukan. Namun seorang pemikir atau persatuan pejuang kemerdekaan bersama-sama menciptakan sebuah ideologi sebagai landasan bernegara, maka lahir lah pancasila sebagai tombak utama mengokohkan kesatuan Indonesia.
Lambat laun pemerintah berkuasa di negeri indonesia yang makmur ini, dengan berdirinya Triaspolitika yang menjadi acuan pemerintah dalam bernegara. Peran pemerintah sangat dibutuhkan dan diharapkan oleh masyarakatnya, demi perwujud-an yang nyata disetiap waktu dalam melangsungkan kehidupan untuk meneruskan estafet beregenerasi mempertahankan kemerdekaan indonesia.
Ekonomi salah satu acuan parameter kebijakan dan kasta di negeri yang emas
Ada beberapa stratifikasi sosial di masyarakat, yaitu kelas Atas kelas Menengah dan kelas Bawah, semua ada di indonesia, kesenjangan sosial pun terjadi atas ancaman krisis kemiskinan ekstrim, entah dari faktor personal masyarakat ataupun faktor feodal yang mempengaruhi itu semua. Sering terjadinya ancaman bagi rakyat yang berjuang untuk bertahan hidup selama kehidupan berlangsung, ketimpangan ekonomi sangat berpengaruh dengan berkembangnya populasi di indonesia, terjadinya urbanisasi yang menjadi acuan meningkatan strata masyarakat, persaingan satu sama lain pun bergejolak, pada akhirnya terjadinya kriminalitas atas meningkatnya krisis ekonomi yang tidak seimbang, yang kaya makin kaya, yang miskin hancur akan kemiskinan, dan midle ekonomi sibuk membayar pajak demi bertahan hidup dan menjaga kredibilitas status sosialnya. Lalu atas kemiskinan masyarakat bertambah, apakah tugas kita sebagai khalifah di dunia berdiam diri, acuh atas sosial masyarakat ataupun menindas yang lemah agar bisa menyeleksi diri dari krisis ekonomi ekstrim?. Sebenarnya ekonomi Adalah jawaban dari sisi fundamental bermasyarakat yang adil dan sejahtera selama bernegara maupun berbangsa.
Generasi ke Generasi menjadi acuan kekuatan kemajuan negeri
Terus bertambahnya populasi manusia di negeri yang kaya raya ini, kita generasi muda menjadi tombak keberlanjutan kemakmuran bangsa, tidak terbawa arus dan selalu dituntut untuk kritis akan hal yang terjadi, yang tidak sesuai dengan jalur-jalur norma yang dijunjung tinggi di negeri yang memiliki ideologi pancasila ini. Kritis yang dimaksud dalam akal pikiran kita yaitu kritis yang melenceng jauh akan keadilan yang tidak bisa ditegakan, acuan ideologi pancasila seharusnya terbenak di dalam lubuk hati anak muda dan jiwa nasionalis yang paham akan arti kebijaksanaan, serta diera digitalisasi 4.0 menuju 5.0 ini, seharusnya anak muda bisa berpikir murni akan keadilan yang objektif. Sudah banyak virus yang tersebar di berbagai bangsa dan negara, dari segala jenis, introvert, bersikap bodo amat atau tidak peduli akan hal kekacauan yang terjadi, tanpa berpikir panjang mereka seolah-olah apatis terhadap itu semua. Penindasan leluasa terjadi di negeri yang makmur ini, tanpa pandang bulu menghabisi yang tidak setara dengan golongannya ataupun berbeda dengan golongannya, ketika semua akan tersadar atas dinamika yang terjadi, mereka kaum-kaum feodal tertawa atas kaum generasi muda yang Fomo ( Fear of Missing Out ) dalam peranan penting, sebab sikap perilaku yang dilakukan bagi mereka yang tidak peduli dengan semuanya, dapat menyebabkan bom waktu yang tidak bisa dihindarkan.
Hanya segelintir anak-anak muda yang peduli, namun itu semua minoritas dari total anak muda yang berjumlah jutaan jiwa di indonesia, jiwa aktivitis hanya dimiliki oleh anak-anak di perguruan tinggi, tetapi anak muda yang tertinggal akan pedidikan, mereka hanya fokus terhadap apa yang menurutnya menguntungkan dirinya sendiri, lalu sisanya aktif dalam zona nyaman yang disuguhkan tekhnologi canggih oleh para borjouis yang menyebabkan nalar kritis intelektual berkurang di kalangan anak muda tertentu.
Bangsa yang memiliki kemerdekaan sejati yaitu bangsa yang membebaskan rakyatnya bebas pikiran dari kebodohan dan penindasan melalui logika, filsafat dan ilmu pengetahuan.
Hidup bernegara dan berbangsa tidak hanya memikirkan isi perut saja ataupun bertahan hidup agar tidak cepat mati, Pendidikan moral, kesejahteraan Masyarakat, dan pergerakan intelektual seharusnya bisa berjalan secara bersamaan, tidak boleh ada yang tertinggal didalam setiap bangsa yang memiliki tekad pejuang. Berkembangnya tekhnologi bukan menjadi sebuah hambatan bagi kita untuk berpikir kritis maupun berjiwa nasionalisme membela bangsa dan negara. Bagi kita yang memiliki kompetensi yang mumpuni seharusnya bisa menjadi ladang amal untuk menebar ilmu kesetiap sudut wilayah yang tertinggal, dengan bantuan tekhnologi, memudahkan kita mengakses semua yang sulit terjangkau, rangkuman maupun catatan penting buat kaum muda yang visioner, melawan ketimpangan sosial ataupun kemunduran berpikir adalah titik tumpu perkembangan generasi. Semakin tumpul pengetahuan, semakin minoritas pergerakan keadilan adalah catatan buruk negara dalam melanjutkan peradaban.
Banyak teori yang tercipta, banyaknya studikasus yang terjadi, maupun banyaknya tesis yang terkumpul menjadi satu, seharusnya kita bisa menjadi negara yang bergerak cepat dalam merespown perkembangan zaman, dari segi intelektual, segi humanitas dan segi religiusitas. Bukan hal yang menjadi pekerjaan menumpuk bagi penerus generasi ( peradaban ), peninggalan-peninggalan adab dan ilmu lah yang seharusnya kita tabur demi terciptanya kerukunan dan kemasyarakatan di negeri ini. Efek jangka panjang bisa terjadi jika kita sendiri tidak memulai itu semua secara konsisten dan adil.


