PATRIOTPENCERAH – Fajar menyingsing di hari pertama Ramadhan membawa atmosfer yang berbeda. Namun, di tengah euforia ini, sebuah pertanyaan besar seringkali luput: Ke mana sebenarnya kita sedang melangkah?
Banyak dari kita terjebak dalam pola pikir bahwa mencapai Ramadhan adalah tujuan akhir. Padahal, jika kita merujuk pada “konstitusi” puasa dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183, Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”
Kata “la’allakum” (agar kamu) dalam ayat tersebut menunjukkan sebuah proses yang berkelanjutan, bukan hasil instan. Artinya, 1 Ramadhan hanyalah sebuah garis start. Tujuan akhirnya bukanlah Idul Fitri yang penuh kemewahan, melainkan transformasi karakter menjadi pribadi yang bertaqwa.
Dalam kitab It-haf al-Khira al-Mahara, Imam Al-Ghazali menekankan bahwa taqwa adalah penjagaan hati dari segala sesuatu yang menjauhkan diri dari Allah. Ramadhan tahun ini adalah momentum untuk “mereset” kompas moral kita. Jika hari pertama ini kita mulai dengan kesadaran bahwa kita sedang berlari menuju derajat taqwa, maka setiap peluh dan rasa haus akan berubah menjadi energi perubahan yang tercerahkan.***


