PATRIOTPENCERAH, BEKASI – Memasuki pertengahan Ramadan, agenda “Buka Bersama” atau Bukber biasanya mulai memadati kalender kita. Mulai dari reuni sekolah, rekan kantor, hingga komunitas hobi. Secara sosiologis, Bukber adalah jembatan silaturahmi yang efektif. Namun, belakangan ini muncul pergeseran nilai. Bukber kerap terjebak menjadi ajang flexing (pamer), kompetisi penampilan, hingga panggung untuk memamerkan pencapaian materi, yang ironisnya sering kali mengorbankan esensi ibadah utama.
Bagi seorang hamba yang mencerahkan, Bukber seharusnya menjadi wasilah (perantara) pahala, bukan justru menjadi ladang dosa baru di tengah bulan suci.
1. Meluruskan Niat: Silaturahmi yang Memperpanjang Umur
Islam sangat menjunjung tinggi silaturahmi. Jika Bukber diniatkan untuk menyambung tali persaudaraan yang sempat merenggang, maka setiap detik penantian berbuka itu bernilai ibadah.
Rasulullah ﷺ menjanjikan keberkahan bagi mereka yang menjaga hubungan baik:
“Barangsiapa yang ingin diluangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari no. 5986 dan Muslim no. 2557).
Namun, jika niatnya bergeser ingin dipuji (riya) atau ingin menunjukkan strata sosial yang lebih tinggi, maka nilai pahala tersebut terancam gugur.
2. Jebakan “Pamer” dan Penyakit Hati
Bahaya laten dari Bukber di era digital adalah keinginan untuk diakui. Unggahan foto makanan mewah atau gaya hidup di media sosial terkadang memicu rasa iri bagi orang lain atau kesombongan bagi pelakunya. Islam mengingatkan agar kita menjauhi sikap sombong (kibr).
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” (HR. Muslim no. 91).
Bukber yang mencerahkan adalah Bukber yang inklusif, di mana tidak ada sekat antara yang sukses dan yang sedang berjuang, serta tidak ada rasa minder karena perbedaan materi.
3. Tragedi “Melalaikan Magrib”
Salah satu kritik paling tajam terhadap budaya Bukber modern adalah pengabaian terhadap salat Magrib. Seringkali karena asyik mengobrol atau mengantre makanan di restoran, waktu Magrib yang sangat singkat terlewatkan begitu saja.
Allah SWT memberikan peringatan dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’un ayat 4-5:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ
“Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5).
Adalah sebuah ironi besar ketika kita menjalankan puasa seharian, namun justru meninggalkan rukun Islam yang paling utama (salat) demi sebuah acara makan-makan.
4. Solusi Bukber yang Berkualitas
Agar Bukber tetap menjadi ladang keberkahan, Patriot Pencerah perlu menerapkan beberapa prinsip:
-
Pilih Tempat yang Ramah Ibadah: Pastikan lokasi Bukber memiliki musala yang memadai.
-
Sederhana dalam Penampilan: Tidak perlu berlebihan ( israf ) agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial.
-
Isi dengan Obrolan Bermanfaat: Hindari ghibah (menggunjing) dan bicarakan hal-hal yang saling memotivasi dalam kebaikan.
Bukber tidaklah terlarang, bahkan sangat dianjurkan jika tujuannya adalah memuliakan tamu dan menyambung kasih sayang. Jangan biarkan “kompetisi dunia” merusak indahnya ukhuwah. Jadikan Bukber sebagai momentum untuk saling mencerahkan, bukan saling membandingkan.***


