Bagi banyak pihak, terutama para netizen melihat langkah Presiden Prabowo Subianto bergabung dalam Board of Peace (BoP) bentukan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu sebagai bentuk “ketundukan”. Namun mereka mungkin melewatkan sebuah operasi intelijen dan diplomasi paling berisiko dalam sejarah modern Indonesia. Di permukaan, kritikus dan haters mencibir. Prabowo dianggap “terjebak” dalam lingkaran bisnis Trump dan ambisi pembersihan citra Netanyahu. Namun, bagi para pengamat militer yang memahami doktrin Grand Strategy, ini bukan soal tunduk, melainkan tentang posisi.
Sementara New York hanya menjadi panggung retorika tanpa akhir bagi PBB yang lumpuh oleh veto, Presiden kita Prabowo Subianto memilih masuk ke dalam jantung pusaran. Sebagai mantan komandan pasukan elit, ia paham betul bahwa perdamaian di Palestina tidak akan lahir dari resolusi di atas kertas, melainkan dari kehadiran fisik di lapangan. Melalui Board of Peace, Prabowo berhasil mengamankan posisi Indonesia sebagai wakil komandan International Stabilization Force (ISF). Ini adalah langkah berani: menempatkan sepatu lars prajurit Indonesia di tanah Palestina di bawah payung kesepakatan global yang secara teknis tidak bisa ditolak oleh Israel.
Namun, senjata rahasia Prabowo bukanlah tank Leopard atau jet tempur F-15ID, melainkan “Komponen Cadangan Khusus”. Langkah menempatkan diaspora Palestina yang telah dididik secara militer di Indonesia menyerupai taktik legendaris yang pernah ia terapkan di masa lalu. Dengan mendidik para pemuda Palestina dalam disiplin militer dan keahlian teknis secara khusus, Prabowo sedang membangun struktur “perlawanan organik” yang legal. Jika dahulu milisi sipil mampu merepotkan kelompok pro-disintegrasi di Timor Timur, kini pasukan “hibrida” ini disiapkan untuk menjadi garda pelindung masyarakat Palestina dari dalam, tanpa harus memicu perang terbuka antar-negara.
Paradoks Tarif, Kekalahan yang Memalukan bagi Trump?
Beralih ke sektor ekonomi, sorotan tajam tertuju pada tarif dagang 19%. Secara awam, ini terlihat seperti kegagalan negosiasi karena pada akhirnya Mahkamah Agung AS menetapkan tarif hanya 10%. Namun, jika kita melihat melalui lensa ekonomi politik, Prabowo sebenarnya sedang memainkan “perang saraf” di dalam domestik Amerika. Dengan menyetujui angka 19%, Prabowo memaksa publik dan institusi hukum AS untuk melihat betapa ekstremnya kebijakan proteksionisme Trump. Intervensi Mahkamah Agung AS yang membatalkan tarif tersebut menunjukkan bahwa lobi Indonesia telah berhasil mengekspos “blunder” kebijakan luar negeri Gedung Putih. Prabowo mendapatkan payung hukum ganda: sebuah kesepakatan bilateral sebagai jaring pengaman, sekaligus menikmati tarif lebih rendah yang diputuskan secara konstitusional oleh sistem hukum AS.
Namun, setiap gerakan bidak catur memiliki harga. Penyerahan hak pengelolaan mineral tanah jarang (rare earth) kepada perusahaan berbasis AS adalah “bom waktu” diplomatik. Ini bukan sekadar transaksi bisnis; ini adalah deklarasi perang dingin terhadap Beijing. Selama dekade terakhir, China telah menancapkan kuku di bumi pertiwi melalui investasi hilirisasi. Dengan memberikan akses LTJ kepada Amerika, Prabowo secara sadar menarik garis batas baru. Indonesia tidak lagi menjadi “halaman belakang” China. Di sinilah kepiawaian sang patriot diuji: mampukah ia menjaga kedaulatan di tengah himpitan dua raksasa, ataukah mineral tanah jarang ini akan menjadi kutukan baru bagi Nusantara?
Dunia mungkin melihat seorang pemimpin yang diolok-olok, namun di balik layar, ada seorang jenderal tua yang sedang menggelar peta tempur baru. Antara mengirim pasukan perdamaian ke Palestina dan mengadu domba kepentingan energi AS-China. Langkah Prabowo ini sebenarnya dapat kita cermati dalam tulisan Dahnil Anzar di Politik Pertahanan, dimana secara ekstrem dituliskan: Pertahanan bukan hanya soal menahan serangan, tapi soal bagaimana membuat lawan merasa bahwa menyerang kita adalah kerugian ekonomi dan politik yang tak tertahankan.
Kini, bola masadepan dunia ada di tangan Beijing dan Washington. Sementara itu, seorang anak muda Palestina yang fasih berbahasa Indonesia dan terlatih secara militer, mungkin sedang memandang langit, menunggu saatnya untuk membangun kembali negerinya dengan tangan yang dididik di bumi pertiwi.


