PATRIOTPENCERAH,Bekasi – Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat KH. Ahmad Badawi, M. Siddiq Azzikri, menyerukan kepada seluruh kader agar memiliki pemahaman politik yang matang dan tidak mudah terjerumus dalam arus politik yang dangkal serta penuh kepentingan.
Menurutnya, kader IMM sebagai bagian dari gerakan intelektual tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika politik, apalagi sekadar ikut-ikutan tanpa memahami dasar-dasar kajian Ilmu Politik. Ia menegaskan bahwa kader harus memiliki landasan berpikir yang kuat melalui literasi dan kajian akademik.
“Banyak orang hari ini berbicara politik dengan sangat percaya diri, tetapi tidak pernah membaca teori politik. Akibatnya, politik dipahami hanya sebagai emosi dan keberpihakan sempit, bukan sebagai ilmu yang memiliki tradisi pemikiran panjang,” ujar Sidiq.
Ia menambahkan bahwa sejak pemikiran klasik Aristotle dalam karya Politics, politik dipahami sebagai upaya mengatur kehidupan bersama demi mencapai kebaikan umum. Artinya, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan proses pengelolaan kepentingan publik secara rasional.
Dalam perspektif modern, lanjutnya, pemikir seperti Harold D. Lasswell melalui bukunya Politics: Who Gets What, When, How menjelaskan bahwa politik berkaitan dengan distribusi kekuasaan dan sumber daya dalam masyarakat.
Tanpa memahami konsep tersebut, seseorang hanya akan menjadi komentator politik yang bising tetapi miskin analisis.
Sidiq juga menekankan bahwa kader IMM harus membangun kesadaran kritis terhadap relasi kekuasaan sebagaimana dijelaskan oleh Karl Marx dalam karya Das Kapital, yang menunjukkan bahwa politik sering kali berkaitan erat dengan kepentingan ekonomi dan struktur kekuasaan.
“Kader IMM jangan sampai mudah diperalat oleh kepentingan politik praktis. Kita harus membaca, mengkaji, dan memahami politik secara ilmiah agar tidak mudah terseret dalam permainan kekuasaan,” tegasnya.
Ia berharap seluruh kader IMM Komisariat KH. Ahmad Badawi mampu menjadi kader yang berintegritas, kritis, dan memiliki kesadaran politik yang matang. Dengan begitu, kader IMM tidak hanya hadir sebagai aktivis organisasi, tetapi juga sebagai intelektual muda yang mampu memberi arah bagi kehidupan bangsa.
“IMM adalah gerakan intelektual. Maka kadernya harus berpikir, membaca, dan memahami realitas politik dengan jernih, bukan sekadar ikut arus,” tutup Sidiq.***


