PATRIOTPENCERAH – Di tengah gegap gempita pesta rakyat dan kehidupan kampung yang semarak, suara dentuman sound system raksasa atau yang dikenal sebagai sound horeg kian menjadi sorotan. Getarannya bukan hanya mengguncang dinding rumah warga, namun juga menembus lorong-lorong sempit, bahkan sampai mengusik kekhusyukan di tempat ibadah.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang batas antara hiburan dan ketertiban. Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustaz Muchamad Arifin, S.Ag., M.Ag., mengingatkan bahwa Islam tidak melarang hiburan, selama tidak melanggar rambu-rambu syariat.
“Rasulullah SAW pun memberi ruang pada hiburan, selama tidak melanggar akhlak dan tidak menjerumuskan pada dosa,” ujarnya.
Namun, lanjut Ustaz Arifin, hiburan yang baik adalah hiburan yang tidak menyalahi hak-hak orang lain. Ia menekankan pentingnya kejujuran dalam menilai dampak suara keras yang menggema hingga larut malam.
“Kita perlu jujur bertanya pada diri: apakah suara keras hingga larut malam itu membawa manfaat untuk semua, atau hanya menyenangkan segelintir orang saja? Bagaimana dengan lansia yang tak bisa tidur, anak-anak yang terbangun karena kaget, atau pelajar yang kesulitan belajar karena kebisingan?” kata dia.
Menurutnya, prinsip kemaslahatan dalam Islam menuntut umat untuk menimbang setiap tindakan secara bijak dan penuh tanggung jawab. Suatu kegiatan, seberapa pun meriahnya, harus tetap berpijak pada nilai etika dan empati.
“Meriah bukan berarti bising. Gembira tidak berarti boleh mengganggu kenyamanan. Kita bisa tetap bersuka cita dengan cara yang santun, menghargai hak orang lain, dan menjunjung tinggi adab,” tegasnya.
Sebagai bagian dari umat yang tercerahkan, Ustaz Arifin menyerukan agar masyarakat—khususnya generasi muda dan penggerak kegiatan di kampung—mengutamakan pendekatan yang berkeadaban dalam mengekspresikan kegembiraan.
“Suara boleh terdengar, tapi jangan sampai menyakiti. Musik boleh dimainkan, tapi jangan sampai menggusur hak orang lain untuk tenang. Inilah wujud Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” pungkasnya.***


