Doa kita telah diijabah oleh Allah SWT ketika di bulan rajab dan sya’ban bagaimana kita berdoa untuk bisa bertemu dengan Bulan Ramadhan. Bulan suci penuh ampunan dan bulan kita untuk memanen pahala sebanyak-banyaknya di bulan ini. Solat,baca quran,bahkan tidur ini menjadi sebuah nilai ibadah ketika kita menjalani bulan suci ramadhan begitulah ramadhan sebagai refleksi kehidupan setelah setahun berkecimuk dengan dunia yang fana.
ramadhan sering kali sebagai ajang untuk kita sebagai hamba yang beriman untuk melaksanakan suatu kewajiban dalam agama islam yakni berpuasa full selama bulan ramadhan. Terkadang ramadhan hanya sebatas bulan kita berpuasa atau ramadhan datang berarti akan datang banyak promo dan banyak event bahkan banyak tayangan yang menarik ketika bulan ramadhan baik di sosial media atau di event-event offline. Itu semua adlah entertaint yang pasti dan tidak perlu kita tunggu ketika ramadhan hadir.
Bahkan seiring berkembangya zaman esensi dari ramadhan secara arti masih sama alias tidak ada pergeseran makna tapi secara kultur dan budaya sudah bergeser. Misal dulu ketika ramadhan datang maka di pastikan masjid-masjid akan rapat dan ramai dari semua kalangan baik tua,muda,dan anak-anak. kadar keimanan dan kesadaran religiusitas masyarakat sudah pasti terasa. ini bertimbal balik sekarang budaya-budaya mokel,party after tarawih,dan tontonan yang kurang faedah itu semua menjadi makanan di bulan ramadan di era ini seakan-akan sakralitas dari ramadhan hanya sekelas event di game online.
Dtangnya bulan ramadhan harusnya menjadi refleksi untuk kehidupan kita. Mencoba melihatsudah berapa banyak dosa yang sudah kita lakukan selama setahn kebelakang dan juga meng evaluasi sudah berapa banyak pahala dan kebaikan yang sudah dikerjakan selama setahun belakang apakah sudah lebih baik dari setahun yang lalu atau bahkan sama saja atau mungkin lebih buruk, maka inilah yang perlu diperhatikan bersama-sama.
refleksi bukan hanya sebatas kita inropeksi apa yang sudah di lakukan di belakang hari tetapai bagaiman untuk merencanakan kedepanya unutk bisa mengimprove sesuatau yang lebih baik lagi. Dan ramadhan dijadikan sebagai momentum untuk menuju sesuatu yang lebih baik tersebut. Bisa di ibaratkan ramadhan sebagai boster di awal unutk menjadikan diri kita lebih baik dari pada sebelaumnya baik dari sisi ibadah atau dari sisi kita sebaai manusia dalam bermuammalah baik kerjaan, atau dalam sosial.
Maka dari itu, ramdhan sebagai refleksi untuk kehidupan kita baik yang masa lalu atau yang akan datang untuk mempersiapkan diri baik dari sisi ibadah atau dalam sisi sosial untuk menjadi hamba yang soilh secara agama dan dermawan secara soaial.
(naufal bassa,papua)


