PATRIOTPENCERAH, Bekasi — Malam 17 Ramadhan kembali datang. Biasanya, timeline penuh dengan ucapan “Selamat Nuzulul Qur’an” lengkap dengan desain pamflet terbaik dan caption menyentuh. Namun pertanyaannya: yang turun Al-Qur’an atau cuma paket data?
Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Ahmad Badawi mengajak pemuda untuk tidak menjadikan malam 17 Ramadhan sekadar seremoni digital tahunan.
“Kita ini kadang lebih semangat upload poster Nuzulul Qur’an daripada membuka mushafnya. Lebih rajin mempercantik feed daripada memperbaiki diri,” ujarnya dengan nada satir namun penuh refleksi.
Ia menegaskan bahwa malam 17 Ramadhan adalah momentum upgrade iman—bukan sekadar ganti foto profil bernuansa islami. Jika Ramadhan disebut sebagai madrasah, maka malam 17 adalah ujian tengah semester: apakah iman naik kelas atau justru tinggal kelas?
“Jangan sampai kita ini kuat sahur, kuat buka puasa, tapi lemah bangun tahajud. Lapar iya, haus iya, tapi hati tetap kosong. Itu namanya diet, bukan ibadah,” tambahnya.
Menurutnya, pemuda hari ini sering sibuk mencari validasi manusia, tapi lupa mencari ridha Allah. Malam 17 Ramadhan seharusnya menjadi waktu untuk memperbanyak tilawah, qiyamul lail, dan muhasabah—bukan maraton scroll media sosial sampai sahur.
“Kita ini generasi yang cepat update tren, tapi lambat update iman. Padahal yang menyelamatkan di akhirat nanti bukan followers, tapi amal,” tegasnya.
IMM Komisariat Ahmad Badawi mengajak seluruh pemuda untuk menjadikan momentum Nuzulul Qur’an sebagai titik balik spiritual: dari sekadar ramai di dunia maya menjadi benar-benar hidup hatinya, dari hanya pandai berbicara agama menjadi sungguh-sungguh mengamalkannya.
Karena pada akhirnya, yang akan ditanya bukan seberapa estetik postingan Ramadhan kita, tapi seberapa dekat kita kepada Allah SWT.
Demikian siaran pers ini disampaikan, semoga malam 17 Ramadhan tahun ini bukan hanya lewat di kalender, tapi benar-benar mengubah karakter.


