ArtikelOpiniReligi

Ramadhan sebagai refleksi kehidupan

2 Mins read

Doa kita telah diijabah oleh Allah SWT ketika di bulan rajab dan sya’ban bagaimana kita berdoa untuk bisa bertemu dengan Bulan Ramadhan. Bulan suci penuh ampunan dan bulan kita untuk memanen pahala sebanyak-banyaknya di bulan ini. Solat,baca quran,bahkan tidur ini menjadi sebuah nilai ibadah ketika kita menjalani bulan suci ramadhan begitulah ramadhan sebagai refleksi  kehidupan setelah setahun berkecimuk dengan dunia yang fana.

ramadhan sering kali sebagai ajang untuk kita sebagai hamba yang beriman untuk melaksanakan suatu kewajiban dalam agama islam yakni berpuasa full selama bulan ramadhan. Terkadang ramadhan hanya sebatas bulan kita berpuasa atau ramadhan datang berarti akan datang banyak promo dan banyak event bahkan banyak  tayangan yang menarik ketika bulan ramadhan baik di sosial media atau di event-event offline. Itu semua adlah entertaint yang pasti dan tidak perlu kita tunggu ketika ramadhan hadir.

Bahkan seiring berkembangya zaman esensi  dari ramadhan secara arti masih sama alias  tidak ada pergeseran makna tapi secara kultur dan budaya sudah bergeser. Misal dulu ketika ramadhan datang maka di pastikan masjid-masjid akan rapat dan ramai dari semua kalangan baik tua,muda,dan anak-anak. kadar keimanan dan kesadaran religiusitas masyarakat sudah pasti terasa. ini bertimbal balik sekarang budaya-budaya mokel,party after tarawih,dan tontonan yang kurang faedah itu semua menjadi makanan di bulan ramadan di era ini seakan-akan sakralitas dari ramadhan hanya sekelas event di game online.

Dtangnya bulan ramadhan harusnya menjadi refleksi untuk kehidupan kita. Mencoba melihatsudah berapa banyak dosa yang sudah kita lakukan selama setahn kebelakang dan juga meng evaluasi sudah berapa banyak pahala dan kebaikan yang sudah dikerjakan selama setahun belakang apakah sudah lebih baik dari  setahun yang lalu atau bahkan sama saja atau mungkin lebih buruk, maka inilah yang perlu diperhatikan bersama-sama.

refleksi bukan hanya sebatas kita inropeksi apa yang sudah di lakukan di belakang hari tetapai bagaiman untuk merencanakan kedepanya unutk bisa mengimprove sesuatau  yang lebih baik lagi. Dan ramadhan dijadikan sebagai momentum untuk menuju sesuatu yang lebih baik tersebut. Bisa di ibaratkan ramadhan sebagai boster di awal unutk menjadikan diri kita lebih baik dari pada sebelaumnya baik dari sisi ibadah atau dari sisi kita sebaai manusia dalam bermuammalah baik kerjaan, atau dalam sosial.

Maka dari itu, ramdhan sebagai refleksi untuk kehidupan kita baik yang masa lalu atau yang akan datang untuk mempersiapkan diri baik dari sisi ibadah atau dalam sisi sosial untuk menjadi hamba yang soilh secara agama dan dermawan secara soaial.

(naufal bassa,papua) 

 

Related posts
Artikel

Ikut Les Privat Jadi Solusi Efektif untuk Meningkatkan Nilai Akademik

4 Mins read
Di era persaingan akademik yang semakin ketat, banyak siswa mulai menyadari bahwa belajar di sekolah saja terkadang belum cukup untuk mendapatkan hasil…
Artikel

Kenapa Banyak Freelancer Indonesia Mulai Menggunakan AI

5 Mins read
Beberapa tahun lalu, kalau ada freelancer bilang kerja pakai AI, respons orang biasanya antara kagum atau malah skeptis. Ada yang langsung mikir,…
Artikel

Review Brand Amplifier Terbaik Betavo Audio

2 Mins read
Banyak orang mengira kualitas suara hanya ditentukan oleh seberapa mahal speaker yang digunakan. Padahal, amplifier adalah jantung dari sebuah perangkat audio. Memilih…
Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *