PATRIOTPENCERAH, Bekasi – Dalam upaya mempererat silaturahmi, memperkuat kelembagaan, dan membangun kekuatan dakwah komunitas, Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat menyelenggarakan kegiatan Kunjungan Kerja dan Konsolidasi Wilayah Jawa Barat Zona 2.
Kegiatan tersebut diikuti oleh pimpinan dan personalia LDK dari sejumlah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), yang meliputi Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Subang.
Dalam sambutannya, Ketua LDK PWM Jawa Barat, Sa’ud Effendie, mengapresiasi antusiasme para peserta serta kesediaan Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia) sebagai tuan rumah kegiatan.
Sa’ud juga mengutip Al-Qur’an surah Al-Ankabut ayat 69 untuk memotivasi para dai komunitas agar terus meningkatkan semangat dan kesungguhan dalam menjangkau berbagai komunitas masyarakat melalui penyiaran dakwah Islam.
Penguatan juga disampaikan oleh Wakil Ketua PWM Jawa Barat, Zaini Abdul Malik. Ia mendorong Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Jawa Barat untuk terus bergerak dan mencapai keunggulan dalam upaya mencerahkan peradaban.

Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari tersebut semakin istimewa dengan digelarnya pengukuhan LDK Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bekasi yang dipimpin oleh Ketua Indra Martian Permana serta LDK Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bekasi yang dipimpin oleh Ketua Ibnu Muthi untuk periode 2022–2027.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta juga berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai berbagai tantangan dalam pelaksanaan dakwah komunitas. Narasumber tamu dari Bikersmu Pimpinan Pusat Muhammadiyah turut hadir dan memberikan perspektif mengenai pengembangan dakwah di tengah berbagai komunitas.
Sementara itu, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bekasi, Abu Deedat Syihab, menyampaikan harapannya agar LDK segera menjajaki kolaborasi dengan berbagai kalangan untuk turut menyelesaikan berbagai persoalan keumatan dan kemasyarakatan.
Ia juga menyoroti perlunya pendekatan dakwah dan sosial dalam menghadapi berbagai persoalan yang dinilai menjadi perhatian masyarakat, termasuk isu LGBTQ+ dan nativisasi.***


